Sabtu, 21 Oktober 2017

Cerpen Tabloid Nova


Tabloid Nova Edisi 18-24 September 2017

Persyaratan kirim cerpen  ke tabloid Nova
1. Tema: Kehidupan wanita dewasa. Nova lebih suka karakter wanita yang tangguh, berjuang, perhatian terhadap sosial dan lingkungan.
2. Jumlah kata, 10.000 cws (sekitar 8 halaman A4)
3. TNR (Times New Roman) ukuran  12
4. Tulis biodata lengkap di bawah naskah ( Nama, alamat, telepon, email, dan no rekening). Bila bukan rekening pribadi, beri keterangan.
5. Jika sudah lengkap semua, kirim ke email: nova@gramedia-majalah.com
6. Tidak ada konfirmasi pemuatan. 
Honor akan otomatis dikirim sekitar 2 minggu setelah pemuatan. 
Cerpen dibawah ini dimuat sebulan setelah saya kirim :)
Alhamdulillah.
Selamat Membaca :)




 Pallubasa
Oleh Fitri Kurnia Sari

Nareya berjalan dengan sedikit tergesa-gesa. Seorang perempuan pelayan sebuah coffe shop di bandara Sultan Hasanudin menawari Nareya yang sedang berjalan menuju pintu keluar  untuk singgah dengan sapaannya yang ramah. Wajah ayu pelayan itu tersenyum semringah sembari membungkukkan badan.
Nareya mengangguk dan tersenyum sambil mengangkat telapak  tangan kanannya. Menandakan ia meminta maaf karena tidak ada niat untuk mampir. Perempuan itu membalas senyuman Nareya. Tas payless putih di bahu kiri, sedang tangan kanan menenteng  sebuah hand bag sedang, membuat Nareya ringan melangkah. Ia tidak perlu menunggu bagasi di terminal kedatangan.
Perempuan dengan rambut lurus sebahu itu melihat sekilas angka di jam tangannya. Penerbangan ke kota Angin Mamiri hari ini benar-benar tepat waktu. Sejak turun dari pesawat, Nareya  menghirup dalam aroma kenangan yang baginya terasa sangat wangi. Aroma yang selama setahun setelah kepulangannya dari Makassar hanya ia rasakan dalam mimpi. Ia memang sudah tidak sabar untuk sampai di kota ini. Setiap langkah kakinya bagaikan detakan jam yang akan segera mengantarkannya ke tempat itu. Terlebih lagi, Ibunya yang selalu mendesaknya untuk segera menikah.
“Datanglah ke sini, tahun depan saat purnama di bulan terakhir! Aku akan mentraktirmu pallubasa lagi.” Seorang lelaki tersenyum sembari melambaikan tangan setelah mengantar Nareya  pulang ke sebuah hotel tempatnya menginap di depan Pantai Losari, pantai yang cukup terkenal di kota ini.  Setahun yang lalu Nareya  masih ingat betul saat terakhir lelaki itu memakai kaos kerah Lacoste Dongker dengan jeans biru.
Saat itu pula mata Nareya tak berkedip menunggu bayangannya  hilang. Perasaannya tiba-tiba terasa sangat senyap. Ia tidak rela jika harus berpisah. Lelaki itu benar-benar mulai mengisi hatinya selama satu minggu ketika dirinya  melakukan perjalanan dinas di kota ini. Hilir mudik mobil yang lewat dan hiruk pikuk manusia di anjungan Pantai Losari sama sekali tak terdengar berisik di telinganya. Ia rela pergi ke kota ini karena lelaki itu sudah sebulan tidak bisa dihubungi. Nareya penasaran.
***
Nareya memesan taksi. Seorang bapak tua dengan logat Makassar yang kental membukakan pintu mobil. Nareya tersenyum.
“Aryaduta, Pantai Losari, Pak!” Nareya memberi tahu nama sebuah hotel tujuannya.
Bola mata Nareya seolah tak berkedip menatap wajah Kota Angin Mamiri meter demi meter seiring roda taksi berjalan. Sepanjang jalan direkamnya baik-baik dalam memorinya. Jalan tol yang panjang dan berliku, gedung-gedung bertingkat yang  jumlahnya bertambah, hilir mudik kendaraan, dan raut-raut wajah orang-orang Makassar benar-benar mengobati sedikit demi sedikit rindu yang disimpannya selama ini. Suhu yang sangat panas sudah menjadi bagian  khas kota ini.
“Pak, lewat Jalan Serigala ya. Mampir sebentar di warung Pallubasa Pak Haji!”
“Baik, Bu. Kita bukan orang sinikah? Suka pallubasa?” Sopir taxi heran menatap Nareya dari kaca spion.
“Pernah singgah di sini mi, Pak. Ya, dari Jawa, tapi saya suka sekali pallubasa. Rempah-rempahnya mantap ki!” jawab Nareya dengan sedikit logat setempat.
Pak Sopir tertawa kecil. Nareya melanjutkan kembali  melihat-lihat wajah kota ini dari balik jendela mobil. Sudah hampir 30 km perjalanan dari bandara Hasanuddin.
Nareya  memandangi warung Pak Haji. Masih sama seperti setahun yang lalu. Menjelang makan siang begini, pengunjung harus rela berdesakan dengan pengunjung lainnya. Sebenarnya Nareya biasa makan pallubasa dengan lelaki itu malam hari. Namun, ia sudah tidak sabar menunggu malam. Biarlah nanti malam, Nareya akan singgah lagi tepat di malam purnama! Ia ingin memanggil kenangan lebih awal dalam semangkuk pallubasa siang itu.
“Silakan,” seorang pramusaji sudah menyuguhkan semangkuk pallubasa di meja Nareya. Sudah lima belas menit ia menunggu. Pallubasa memang makanan tradisional Makassar. Terdiri dari daging dan jeroan sapi atau kerbau dengan kuah beraroma cengkih, serai, pala, kapulaga, kayu manis. Rasa rempahnya gurih. Taburan kelapa parut goreng membuat kuahnya makin terasa renyah. Nareya menghirup perlahan dan merasakan asap yang mengepul dari mangkuk pallubasa. Seiring itu pula semua kenangannya serasa hadir di tempat itu.
“Enak kan rasanya? Ini pallubasa yang terkenal di kota ini. Kalau singgah ke kota ini dan tidak makan pallubasa kamu akan rugi,” Lelaki itu berkata setahun yang lalu dengan berapi-api seakan ia yang memasak masakan khas Angin Mamiri itu.
Ragu-ragu, Nareya menyesap seujung sendok. Gurih memang. Pertama, kedua, dan... ia mulai suka. Tapi ia lebih suka memilih daging dan sedikit jeroan. Lelaki itupun bercerita banyak hal.
***
Nareya menuju resepsionis hotel untuk chek in. Dipilihnya kamar di lantai 8 arah selatan yang persis menghadap Pantai Losari. Setelah menaiki lift, akhirnya sampai juga ia di kamarnya. Dibukanya gorden jendela besar. Pantai Losari terlihat jelas. Anjungannya terdapat tulisan besar berbunyi  City of  Makassar dan Pantai Losari.  Deretan pohon pinang berbaris rapi  sepanjang tepian anjungan. Beberapa tanaman hijau dalam kotak-kotak bersemen tertata rapi. Memberikan oksigen bagi siapapun yang sedang menikmati hamparan pantai. Ombak yang tenang dan beberapa kapal kecil adalah  sebuah harmoni alami.
Pertama kali ia bertemu dengan lelaki itu adalah di Pantai Losari. Pada malam yang dingin disertai angin laut waktu itu membuat Nareya tak lepas dari jaket cokelatnya. Waktu itu, ia sedang menikmati secangkir sarabba, minuman hangat khas Makassar dengan rasa jahe, gula merah, merica, pala dan santan. Bagi Nareya sarabba sekilas mirip bajigur, hanya rasa rempah-rempahnya yang lebih komplit yang membedakan sensasi rasanya. Sama-sama mereka sedang menikmati malam di Pantai Losari.
“Baru pertama kali ke sini?” Seorang lelaki menghampiri Nareya malam itu.
“Iya...  Kamu?”
Lelaki itu bernama Bram. Senyum tipisnya selalu menghiasi bibirnya yang berkumis tipis pula. Lampu-lampu di anjungan pantai  persis lilin-lilin besar yang membantu Nareya melihat lebih jelas wajah Bram yang duduk disampingnya. Kulitnya yang cukup putih dengan hidung yang mancung, rahang yang keras memberi kesan ia lelaki yang cukup macho. Bercerita banyak tentang Makassar, Bram bagai seorang guide bagi Nareya.
Hari-hari berikutnya, rutin setiap malam sebelum duduk-duduk di anjungan Pantai, Bram selalu mengajak Nareya makan malam dengan menu pallubasa di sebuah kedai makanan yang terkenal. Nareya  heran, ia bisa begitu cepat akrab dengan lelaki itu.
***
Nareya sangat senang bila ada seseorang yang memberikan sebuah perhatian lebih. Itulah mengapa dirinya begitu cepat akrab dengan Bram. Hal sekecil apapun, lelaki itu selalu mengatakannya pada Nareya.
 “Pasti setiap laki-laki yang akan menyatakan cintanya padamu harus berpikir seribu kali!” tebak Bram sambil memasukkan irisan jeroan pallubasa ke mulutnya.
Nareya  tersedak. Secepat kilat diambilnya air minum didepannya. Ia mengernyitkan dahi. Menatap Bram meminta penjelasan.
“Kau terlalu mandiri dan...”
“Apa?” Nareya makin penasaran. Tak disangka Bram akan menebak kepribadiannya.
“Kau harus mendapatkan laki-laki yang lebih tinggi darimu. Pekerjaannya, cara berpikirnya dan kedewasaannya!”
Nareya terpaku. Ditatapnya Bram tak berkedip. Baru empat hari bertemu, itupun sesudah ia selesai dengan pendidikannya di kantor diklat  Makassar. Saat makan malam saja, namun Bram mampu menyelami kepribadiannya. Begitu besarkah perhatian Bram untuknya? Seumur hidup Nareya, hanya Bram yang begitu terbuka menebak kepribadiannya.
“Tidak, Bram! Cinta tak perlu serumit itu,” balas Nareya mantap.
Sepulangnya dari Makassar, hubungan mereka terus berlanjut walaupun hanya via telepon.
***
Sebentar lagi pukul tujuh.  Nareya harus segera ke kedai pallubasa. Seperti janji Bram, purnama terakhir di bulan terakhir. Nareya menyempurnakan riasan tipis di wajahnya. Sederhana namun cukup membuat wajahnya kelihatan lebih cerah.
Sampai di depan warung pallubasa, jantung Nareya kali ini benar-benar berdegup hebat. Ia menunggu Bram. Seperti janjinya, lelaki itu akan  menunggu Nareya di bawah pohon  sebelah warung.
“Apa kabar? Maaf, Nareya aku terlambat.” Napas Bram tersengal-sengal.
“Baik, Bram!” jawab Nareya tersenyum lebar.
Bram mengenakan kaos kerah Lacoste Dongker. Persis ketika saat terakhir berpisah setahun yang lalu. Nareya tersenyum gembira. Itu artinya Bram ingin Nareya selalu mengingatnya. Mereka bergandengan tangan. Nareya memesan semangkuk pallubasa. Namun aneh,  Bram tidak memesannya malam ini. Masih kenyang, katanya. Nareya tak mempersoalkannya.
***
“Aku tak habis pikir denganmu, Bram. Sebenarnya kenapa kau memintaku untuk menemuimu saat purnama bulan terakhir? Kau dulu pergi berlalu begitu saja dan aku tak sempat bertanya padamu,” berondong Nareya.
Bram tertawa kecil. Lesung pipitnya sungguh manis malam ini.
“Bukankah kita berpisah pada saat purnama? Aku suka purnama karena itu saatnya bulan sempurna menghujani bumi ini dengan cahayanya. Aku ingin memiliki cinta sesempurna purnama.”
Nareya senang. Ia merasa cinta Bram memang tertuju padanya. Bram dua tahun lebih tua darinya. Rasanya, Nareya ingin segera mengabulkan keinginan Ibunya untuk segera menikah.
“Siapa perempuan yang beruntung mendapatkan purnama cintamu, Bram?” Selidik Nareya.
Bram menatap lekat Nareya.  Tersenyum dan dikeluarkannya sebuah cincin emas putih. Dipakaikannya cincin itu di jari manis Nareya.
“Aku sudah memenuhi janjiku, Nareya. Aku menemuimu di warung pallubasa ini saat purnama! Kau mau datang berarti ada cinta darimu untukku,”  Bram menyunggingkan senyum.
Hati Nareya berbunga-bunga. Cintanya tak bertepuk sebelah tangan. Keduanya tenggelam dalam obrolan panjang dihujani cahaya purnama.
“Maaf Nareya, aku tak bisa mengantarmu ke hotel malam ini. Aku harus pulang sekarang!”
Bram melambaikan tangan. Seperti dulu. Nareya ingin memberondong dengan seribu pertanyaan tentang kelanjutan hubungan mereka nantinya. Kapan Bram akan melamarnya? Namun Bram sepertinya sangat tergesa-gesa.
“Mbak, bicara dengan siapa?” Seorang perempuan yang duduk di meja sebelah Nareya menghampirinya.
Nareya kaget dan menatap perempuan itu heran. Bicara dengan siapa?
“Ibu lihat laki-laki yang bicara dengan saya tadi, kan? Dia sudah pulang. Dia...”
Ibu itu menggeleng.
“Mbak tadi makan sendiri di sini. Saya sempat heran, Mba berbicara sendiri tapi seperti sedang  mengobrol dengan ‘seseorang’.”
Nareya kaget. Bicara sendiri?
“Namanya Bram, Bu!”
“Bram? Lelaki tampan berkumis tipis dan sering mengenakan kaos berkerah itu?” timpal seorang pramusaji yang kebetulan lewat di depan Nareya.
Nareya mengangguk.
“Dokter  muda itu  meninggal satu bulan yang lalu karena tumor otak yang dideritanya. Ia pelanggan setia pallubasa kami.”
Bulir-bulir air mata Nareya tak terbendung lagi. Aroma kenangan itu masih terasa sangat wangi.
Datanglah ke sini saat purnama di bulan terakhir! Aku akan mentraktirmu pallubasa!
***





Kamis, 31 Agustus 2017

Sahabat Difabel, Kalian Hebat!



Semua mahluk adalah ciptaan Allah, Sang Maha Pencipta. Tidak ada produk gagal dari ciptaan Allah. Semua berarti dan bermakna. Sekecil apapun. Arti yang kecil akan bisa bermakna besar tergantung dari cara manusia itu melihatnya, memakai kacamata kehidupan. Termasuk sahabat-sahabat difabel. Semangat dan perjuangan kalian begitu terasa, walau saya hanya mengikuti dari fb. Pertama kali saya bertemu dengan mba Yeni Indah di komunitas menulis. Sebelumnya saya juga berteman dengan sahabat difabel teteh Tini Djajadi, juga di komunitas menulis. Saya melihat kegigihan dari mba Yeni dan mba Tini begitu besar. Hidup mereka selalu penuh manfaat. Dari mba Yeni, saya mengenal komunitas sahabat difabel.
Hati saya selalu bergetar melihat semangat kalian yang begitu membara. Hidup penuh dengan makna walaupun dalam keterbatasan. Saya senang, ada komunitas sahabat difabel di Semarang. Di rumah ini, ya, saya menyebutnya rumah karena keakraban kalian yang begitu kental, kalian semua selalu bergandengan tangan, bercanda, bermain, dan merajut asa bersama.
Pelatihan, ataupun kegiatan komunitas sahabat difabel sangat bermanfaat. Kalian semakin kompak dan ikatan batin kalian semakin mengencang. Kalian bisa saling berdiskusi dan belajar bersama. Kegiatan pelatihan jurnalistik, pelatihan olahan pangan dari Dinas Perindustrian, pembuatan buku, juga pelatihan untuk para orang tua anak autis.
Majulah terus komunitas sahabat difabel. Kalian sungguh hebat. Percayalah, hidup ini indah jika terus diisi hal-hal yang bermanfaat. Terus semangat kawan. Tetaplah tersenyum  :)





Hasil gambar untuk gambar difabel






























































































Jumat, 16 Desember 2016

Cerpen Penyumpit yang Arif

Penyumpit yang Arif
Oleh: Fitri Kurniasari

Pak Raje adalah seorang kepala desa yang kaya raya. Tubuhnya gemuk dan berkepala botak. Rumahnya tiga, mobilnya dua, dan sawahnya banyak. Namun sayang Pak Raje terkenal jahat dan licik. Banyak penduduk yang berhutang padanya karena ekonomi yang pas-pasan. Mereka tercekik hutang dengan bunga yang besar. Hal itu pula yang membuat Pak Raje semakin kaya. Penduduk desa tidak ada yang berani menegur Pak Raje.
Pak Badir, ayah Penyumpit mempunyai hutang yang sangat banyak kepada Pak Raje. Ia tak mampu membayarnya karena Pak Raje selalu menggandakannya. Sekarang Pak Badir telah meninggal, maka Penyumpitlah yang harus membayar hutang ayahnya itu.  Pemuda tampan itu harus menjaga sawah milik Pak Raje dari gangguan tikus dan babi hutan, siang dan malam. Dengan cara seperti itulah, Penyumpit membayar hutang.
“Hai, Penyumpit, Kau harus hati-hati menjaga sawahku. Jika sampai sawahku rusak, maka Kamu harus membayar denda, dengan membayar biaya semua kerusakan! Jangan lupa siang ini Kamu menuai padi!” tegas Pak Raje berkacak pinggang tanpa belas kasihan.
Penyumpit mendesah. Ia sangat menyayangkan sikap Pak Raje yang sangat tamak dan tidak punya perasaan itu. Pak Raje tahu, bahwa kemungkinan besar, babi-babi hutan itu pasti masuk ke sawah.
Tujuh hari sudah, Penyumpit melaksanakan tugasnya dengan baik. Babi hutan tak ada yang mendekat karena ada Penyumpit si penjaga. Penyumpit duduk termenung di rumah sawah berukuran 2 x 2 meter itu. Ia terbayang wajah Arumi, putri Pak Raje yang sangat jelita namun baik hati. Arumi suka menolong orang dan rajin mengaji.
***
“Kenapa Arumi beda sekali dengan Pak Raje? Kenapa aku selalu teringat dia?” batin Penyumpit.
Penyumpit tersenyum konyol. Ia memang menyimpan rapa-rapat perasaannya pada Arumi, karena ia yakin Pak Raje tak akan merestui. Lagipula, belum tentu Arumi mau dengan pemuda miskin seperti dirinya, batinnya.
“Mengapa Ayah tega menyuruh Penyumpit menjaga sawah? Bukankah babi hutan di daerah situ sangat ganas?” tanya Arumi suatu malam.
“Hutang ayah pemuda itu sangat banyak, Arumi. Ayah akan rugi jika Penyumpit tidak membayarnya. Bukankah dengan begitu, sawah kita menjadi aman dari gangguan babi hutan? Hei, kenapa Kau tanyakan ini, Arumi? Apakah Kau ada hati padanya?” Pak Raje mulai curiga.
Arumi hanya menggeleng. Ia tidak berani menatap ayahnya. Ia sangat takut jika Ayahnya murka. Namun, jauh di lubuk hatinya, ia memang menaruh perasaan pada Penyumpit. Walaupun miskin, tapi Penyumpit sangat giat bekerja, pintar, dan suka menolong. Arumi segera masuk ke kamar. Ia tidak ingin ayahnya mengetahui perasaannya.
***
Ini adalah hari ke delapan Penyumpit menunggu sawah Pak Raje. Ketika sedang asyik duduk di dangau, tiba-tiba tampak seekor babi hutan memasuki wilayah persawahan Pak Raje. Dengan cekatan Penyumpit melemparkan tombak yang ia bawa kea rah babi hutan. Dari kejauhan terdengar pekik kesakitan si babi hutan. Ternyata, mata tombak Penyumpit mengenai kaki babi hutan. Penyumpit cepat berlari kea rah babi hutan yang terluka. Namun, babi hutan itu sudah lenyap. Pemuda itu hanya melihat tetesan darah dari kaki babi hutan itu yang berceceran sepanjang jalan.
Penyumpit mengikuti jejak tetesan darah itu hingga ke dalam hutan. Ia ingin mengetahui tempat persembunyian para babi hutan yang selalu merusak sawah penduduk.  Ia melihat babi hutan yang terluka masuk ke dalam sebuah rumah kayu. Alangkah terkejutnya Penyumpit melihat babi hutan itu berubah menjadi seorang perempuan cantic. Ia pun terdiam beberapa saat seolah tak percaya dengan apa yang dilihatnya. Beberapa detik kemudian, Penyumpit sadar dari rasa terkejutnya.
“Wahai Putri yang cantik, Kaukah babi yang terluka tadi?” Penyumpit penasaran.
“Benar…Akulah yang tadi menjelma menjadi seekor babi. Namaku Putri Malam,” ucap gadis cantik itu sambil merintih kesakitan.
“Maafkan Aku, Putri. Aku telah melukaimu. Mari Aku bantu mengobati luka di kakimu,” ucap Penyumpit menawarkan diri.
Putri Malam mengangguk mengiyakan. Secara hati-hati dan pelan-pelan, Penyumpit membersihkan luka dan menghentikan darah yang mengalir di kaki. Ia menggunakan tumbuhan sekitar yang berkhasiat sebagai obat untuk menyembuhkan luka Putri Malam.
Keesokan harinya, Putri Malam sudah bisa berjalan. Sebagai tanda terima kasih, ia memberikan beberapa bungkusan yang berisi kunyit, daun simpur, buah nyato, dan buah jering kepada Penyumpit.
“Kau boleh membukanya setelah sampai di rumah!” pesan Putri Malam.
Penyumpit kembali ke rumah dan mematuhi pesan Putri. Setibanya di rumah papannya, ia segera membuka bungkusan tadi. Betapa terkejutnya ia, ternyata bungkusan itu berisi emas, berlian, permata, dan intan. Sejak itu, Penyumpit menjadi orang kaya.
Penyumpit pergi ke rumah Pak Raje untuk melunasi hutang ayahnya.
“Darimana Kau dapat uang sebanyak ini Penyumpit? Apakah Kau mencurinya?” Pak Raje tak percaya.
“Maaf, Pak. Saya tidak pernah mencuri dari siapa pun. Ini Saya dapatkan dengan halal. Ini adalah pemberian seseorang yang baik hati,” jawab Penyumpit.
“Seseorang?” Pak Raje makin penasaran.
Akhirnya, Penyumpit menceritakan peristiwa malam itu. Ia mengatakan semuanya pada Pak Raje, sampai ia mendapatkan bungkusan dari Putri Malam yang isinya telah berubah menjadi barang-barang berharga. Rupanya, Pak Raje tertarik untuk mendapatkan harta dari Putri Malam.
Diam-diam Pak Raje meniru apa yang dilakukan Penyumpit. Ia pergi menjaga sawah pada malam hari dan membawa tombak. Tapi karena tidak terbiasa berjaga malam, ia pun mengantuk dan tertidur. Pada saat tertidur, puluhan babi hutan bertubuh besar menyerang Pak Raje. Pak Raje terkejut, lalu lari pulang ke rumah. Beruntung Penyumpit dan beberapa warga  sedang keliling desa  menjaga keamanan. Mereka lalu mengusir babi hutan itu. Pak Raje pun dibawa ke rumah sakit. Tubuhnya penuh dengan luka. Pak Raje sangat menyesal. Serudukan babi membuat dirinya sadar akan kesalahannya selama ini.
Penyumpit berdiri di samping ranjang Pak Raje.
“Kenapa Bapak pergi menjaga sawah seorang diri? Padahal Bapak bisa meminta tolong pegawai Bapak untuk menjaga sawah!” kata Penyumpit. Walaupun Pak Raje sering berbuat tidak adil terhadapnya, namun ia tetap mau menolong kepala desa itu.
“Aku, aku yang tamak, Penyumpit. Aku ingin bisa memperoleh harta berharga dari babi hutan itu. Aku menyesal Penyumpit. Maukah Kau memaafkanku?” kata Pak Raje dengan menahan sakit di sekujur tubuhnya.
“Saya sudah memaafkan Bapak dari dulu.”
Penyumpit mengusap bahu Pak Raje. Ia sama sekali tidak punya dendam terhadap Pak Raje. Ia ikhlas menunggu Pak Raje di rumah sakit.
“Terima kasih Penyumpit. Kamu sudah mau menolong Ayahku,” kata Arumi yang tiba-tiba muncul dari arah pintu.
“Bukankah sesama mahluk Tuhan kita harus saling menolong, Arumi?” Penyumpit tersenyum. Jantung Penyumpit berdetak lebih cepat.
Arumi tersenyum. Ia juga merasakan jantungnya berdegup lebih cepat.
Pak Raje yang melihat itu, tersenyum. Dalam hati ia berniat akan menikahkan Arumi dengan Penyumpit. Pak Raje sadar, Penyumpit adalah seorang pemuda yang tangguh, mandiri, dan baik hati.
Sebulan setelah keluar dari rumah sakit, Pak Raje memanggil Penyumpit ke rumahnya.
“Aku meminta maaf kepadamu, Penyumpit. Selama ini aku telah berbuat jahat terhadapmu dan juga kepada semua penduduk sini. Aku sangat menyesal!” sesal Pak Raje sambil menerawang langit yang cerah.
“Bukankah Pak Raje sudah meminta maaf?” kata Penyumpit mengingatkan.
“Mungkin, seribu kata maaf yang Aku ucapkan tidak sebanding dengan perbuatan jahatku dulu.”
“Kami semua sudah memaafkan Pak Raje!” jawab Penyumpit.
Sejak kejadian di sawah itu, Pak Raje berubah menjadi baik dan bijaksana. Semua penduduk desa sangat gembira dengan perubahan Pak Raje. Ternyata Tuhan telah menegur Pak Raje lewat peristiwa itu.
“Penyumpit!” Pak Raje menghela napas, memandang pemuda tampan nan baik hati didepannya.
“Maukah Kau menikah dengan putriku, Arumi?”
Penyumpit terkejut mendengar perkataan Pak Raje. Ia tidak menyangka akhirnya Pak Raje mau menerimanya sebagai menantu.
“Saya bersedia menikah dengan Arumi, Pak,” jawab Penyumpit dengan suara bergetar karena bahagia.
Arumi yang berdiri dibalik pintu dan mendengarkan percakapan ayahnya tersenyum bahagia.
Satu minggu kemudian, pernikahan Penyumpit dan Arumi dilangsungkan. Acara begitu meriah. Pak Raje juga memanggil anak yatim piatu dalam pesta itu. Sekarang Penyumpit menjadi orang yang kaya dan hidup bahagia dengan istrinya. Pak Raje pun sekarang menjadi orang yang baik hati dan tidak sombong. Ketika usianya semakin lanjut, Pak Raje meminta Penyumpit menjabat menjadi kepala desa menggantikan kedudukannya. Penyumpit menjadi pemimpin yang arif bijaksana


*Sumber : Cerita Penyumpit dan Putri Malam
                  ( Cerita Rakyat Bangka Belitung )

*Telah dimodifikasi tanpa merubah makna cerita



Senin, 13 Juni 2016

Cerpen majalah Kartini


                  Jawaban Untuk Rien. Majalah KARTINI , No.2411, 15-29 Oktober 2015





                                                  JAWABAN UNTUK RIEN 

                                                      Oleh : Fitri Kurniasari 


          Rien menatap kosong deburan ombak yang entah sudah berapa kali
terhempas di bibir pantai berpasir putih itu. Ia seolah melihat hamparan kisahnya lima
tahun yang lalu di atas laut biru itu. Di sisinya nampak seorang gadis kecil berkaos
putih asyik membuat istana pasir. Gadis kecil itu menghiasi istana pasir dengan bunga-
bunga kecil warna warni. Bunga yang dipetiknya diantara rerumputan kering di
samping sebuah rumah makan. 
          Rien menghela napas panjang. Diliriknya Amara, gadis kecilnya berusia tiga tahun itu. Sungguh! Rien ingin menjadi anak kecil lagi yang polos tanpa beban pikiran seperti
Amara.
          Ia teringat Rangga. Perjuangan Rangga untuk mendapatkan dirinya tidaklah mudah. Papa Rien sangat selektif memilih calon menantunya. Sepuluh tahapan yang bisa dibilang sulit harus Rangga lewati. Rien ingat peristiwa malam itu.
          "Kalau kamu mau meminang anakku, pertama kali kau harus membuktikan
bahwa kau menyayangi Rien. Seberapa besar cintamu padanya?" tanya Papa serius.
           Rangga menjawab bak seorang ksatria yang siap menolong tuan putri dalam
bahaya. Rien mendesah. Ia tidak menyangka, apa yang dilakukan Papa terhadap
Rangga adalah bentuk proteksi pada masa depan putri kesayangannya. Ia baru
menyadarinya setelah peristiwa besar itu terjadi. Bulir-bulir air mata mulai terbentuk di
sudut mata Rien. 
          "Bunda, foto dong Amara di depan Istana Pasir itu!" Amara menggelayut manja di lengan Rien.
          Rien tergagap. Segera ia hapus air matanya.
          "Baik, Amara. Sekarang senyum ya. Satu, dua, tiga!"
          Amara berjingkrak-jingkrak gembira melihat fotonya. Kehadiran Amara sungguh membuat Rien merasa semangat hidupnya muncul kembali.
***
          Ketika membeli minuman, tak sengaja Rien menabrak seorang perempuan
hamil. Ia segera meminta maaf dan mengganti minuman yang jatuh. Melihat perempuan
itu, Rien teringat pada seorang perempuan hamil yang ia temui empat tahun yang lalu.
Dua bulan setelah Rangga pergi.
          Perempuan itu namanya Rasti, teman kuliahnya. Ketika itu Rasti meminta
Rien menemaninya ke dukun pijat untuk menggugurkan kandungannya. Rasti putus asa
karena pacarnya tidak mau bertanggung jawab. Rien yang ingin sekali punya anak
membujuk Rasti agar ia jangan menggugurkan kandungannya dan Rien berjanji akan
merawat anak itu. Dan Rien memenuhi janjinya membesarkan anak Rasti sampai
sekarang. Anak yang mewarnai hari-harinya setelah Rangga pergi.
         “Aku tidak sempurna, Rien. Aku tak bisa membahagiakanmu!” tegas
Rangga malam itu.
         “Tapi aku cinta kamu, Rangga. Aku menerima kamu seutuhnya, termasuk
kekurangan kamu!” ujar Rien.
         “Ini fatal, Rien. Papamu pasti tak akan menerimaku lagi jika
mengetahuinya. Itu syaratnya padaku!”
         “Apakah kamu punya perempuan lain?” suara Rien bergetar.
         "Rangga mendesah. Menatap Rien penuh kesedihan.
         “Aku tak sanggup mengatakannya sekarang, Rien.”
         Pagi harinya Rangga pergi. Ada amplop yang ditinggalkannya di bawah
bantal. Namun, Rien tak memedulikannya. Ia menyimpan amplop itu dan tak pernah
membukanya sampai sekarang. Ia benci Rangga saat itu karena tidak mau berterus
terang dan membuatnya bingung. "Cinta macam apa itu," batin Rien.
         Rien berprasangka kalau Rangga terlanjur menghamili perempuan lain dan
merasa berdosa. Ia ingat Papa sering berpesan pada Rangga agar Rien menjadi
satu-satunya perempuan di hati Rangga. Rien tak bisa bertanya pada Papa apa syarat
kesepuluh Rangga bisa menikahinya.
         Rien mengembuskan napas panjang, melepaskan kenangannya berbaur dengan deru ombak yang akhirnya pecah menghantam kakinya. 
         "Amara! Ayo pulang!" Rien memanggil gadis kecil yang sedang asyik melempar kerang-kerang kecil ke laut.
         "Sebentar lagi, Bunda."
         "Ayolah, kita sudah terlalu lama disini. Besok, kalau Amara ulang tahun, Bunda ajak ke sini lagi," bujuknya.
         Amara mengangguk. Ia mengikuti Bundanya menuju parkiran mobil.
         Satu setengah jam kemudian, Rien membelokkan mobilnya ke sebuah rumah makan. Dilihatnya Amara tertidur pulas. Wajahnya nampak kelelahan setelah puas bermain di pantai. Kadang Amara senyum-senyum, seperti sedang berkelana ke negeri mimpi. Rien ada janji dengan Ghea dan Oki, teman sekampusnya waktu di Bandung, yang kebetulan mampir di kota tempat Rien tinggal. Mereka janji bertemu hari ini di sebuah rumah makan.
          "Amara! Bangun sayang."
          Gadis kecil itu mengucek matanya. Ditatapnya wajah Rien.
          "Kita makan dulu, yuk!"
          Mendengar kata makan, Amara langsung duduk, bersiap keluar mobil. Rien tertawa kecil memahami kalau gadis kecilnya pasti sudah kelaparan. Ia berjalan menggandeng tangan Amara. Pandangan matanya dilayangkan ke seluruh penjuru rumah makan khas Jawa itu, mencari sosok Ghea dan Oki. Mereka bertemu dan saling berpelukan karena sudah lima tahun tidak bertemu.
          "Anakmu? Cantik sekali!" puji Ghea dan Oki.
          Rien mengangguk. Tak berapa lama mereka asyik bernostalgia tentang masa kuliah.
***
          Malam semakin larut. Rien tidak bisa tidur. Dilihatnya Amara sudah pulas disampingnya. Dikecupnya kening gadis kecil itu. Gadis kecil yang setia menemani hari-harinya dalam suka maupun duka.
          Mata Rien terpaku pada foto seorang gadis kecil berbaju biru yang berlari di padang rumput sambil menerbangkan sebuah layang-layang berekor panjang. Layang-layang itu bercorak ungu, kuning, pink, dan biru. Itu adalah foto Rien ketika berusia enam tahun.
         “Teruslah berlari, Rien sampai kau bisa menerbangkan layang-layang itu
dan bawalah ke mana pun kamu mau!” teriak Papa sambil berlari kecil mengikuti Rien. Itu berarti Rien harus punya impian setinggi mungkin dan harus gigih mengejar impiannya.       
          Mata Rien berkaca-kaca mengingat itu semua. Saat itu
adalah satu hari setelah Mama meninggal. Rien menangis terus dan Papa membawanya
ke padang rumput bermain layang-layang agar Rien diam dan tidak bersedih lagi.
          Hari-harinya bersama Papa sangat indah. Masak bersama, pergi berenang,
juga ke pasar. Kalau memasak Papa selalu membuka resep dan Rien yang disuruh
membacakan dan mencicipi hasilnya. Pernah Papa salah memasukkan tepung kanji
ke adonan tempe, jadilah tempe cireng! Setiap malam Papa akan mendongeng
sampai Rien kecil tidur. Bila Papa berangkat kerja Rien hanya berdua dengan Mbok Parsi,
asisten rumah tangga paruh waktu.
          Yang juga tidak bisa Rien lupakan adalah Papa menjadi tempat curhat ketika
ia dulu beranjak remaja. Mulai masalah jerawat, model rambut, sampai teman sekolah.
Biasanya Papa akan bertanya lewat telepon pada Tante Fia, adik Papa. Pernah adik Papa itu menyarankannya untuk menikah lagi, tapi Papa menolak karena ia sudah cukup bahagia 
memiliki seorang Rien.
          Kebersamaan itulah yang membuat Rien tetap tegar sampai saat ini ketika
biduk rumah tangganya tidak berjalan mulus. Ia menyayangkan mengapa Rangga
tidak sekuat Papa dan terlalu cepat berputus asa.
         “Andai saja Rangga bermental baja seperti Papa!” Rien mendesah.  
***
          Mereka bertemu. Rien dan Anggit. Rien menceritakan semua kisahnya.
         “Kamu harus tegar, Rien!” Anggit sangat memahami kegalauan Rien.
         Rien memandangi Anggit, teman lamanya waktu SMU. Ia mendesah.
         “Kamu masih beruntung, Rien. Suamiku malah pergi dengan wanita lain
ketika aku hamil anak kedua.”
         “Sedang kamu masih punya harapan bertemu Rangga kembali.
         Keduanya pun  hanyut dalam obrolan panjang.
         Rien mengantar Anggit pulang ke rumah tua bangunan masa Belanda
dengan halaman yang sangat luas. Bangunan itu masih terlihat kokoh. Dilihatnya
seorang nenek tua yang usianya hampir delapan puluh tahun duduk di teras. Nenek
Anggit, sang pemilik rumah itu. Anggit begitu ikhlas menjalani hidupnya. Ia menjadi tulang
punggung keluarga. Ia senang bertemu Anggit. Pikirannya menjadi lebih terbuka. Dunia
tak selebar daun kelor. 
***
         Hari ini Rien pergi ke rumah Papanya. Rien sangat rindu pada sosok yang
menyayanginya dengan tulus itu. Ia menekan bel, agak lama menunggu.
         Terdengar suara langkah kaki. Seorang laki-laki dengan jenggot putihnya
membuka pintu. Rien langsung memeluknya. Ia menangis. Lelaki tua itu membiarkan Rien menumpahkan semua perasaannya di dadanya.
         “Papa tidak pernah menyalahkanmu, Rien. Papa rindu kamu. Hei, Amara apa kabar?”
         Gadis kecil itu senang sekali. Tak lama ia sudah duduk di pangkuan
kakeknya.
         Rien menceritakan tentang Amara. Namun aneh, Papa tidak menanyakan
Rangga sedikitpun.
        “Papa sudah membersihkan kamar kamu dan Amara.”
        “Papa tahu aku akan datang?”
        Seperti biasa Papa selalu bisa merasakan jika Rien akan pulang. "Ikatan
batin," kata Papa.
        Rien masuk ke kamar. Semua masih seperti dulu. Tapi aneh, foto
Rangga tidak ada. Rien merasa Papa sudah mencium ketidakberesan rumah tangganya.
       “Papa bangga padamu, Rien!” Tinggallah di sini. Temani Papa!”
        Rien semakin heran. Kemudian Papa menceritakan bahwa selama ini dia
hanya diam agar Rien bisa memecahkan masalahnya. Katanya Rien sudah dewasa. Jadi Papa sudah tahu rumah tangganya bermasalah?
         Lega! Rien merasa bebannya melayang. Mereka berdua tertawa. Rien tidak takut lagi.
***
         Hari ini Rien pindah ke rumah Papa. Wanita bertubuh semampai dan
anggun itu terus bersenandung. Malam pertama di rumah Papa terasa sangat nyaman dan hangat. Bangunan joglo dengan lampu gantung ukir kuning keemasan di ruang tamu. 
         Rien masuk ke kamar Amara. Matanya tertuju pada boneka teddy bear hadiah ulang tahun yang disusun seperti sebuah keluarga oleh Amara. Boneka beruang coklat yang terbesar sebagai papa,
beruang biru sebagai mama, dan yang kuning kecil dipangku beruang coklat adalah
Amara. 
         Air mata Rien menetes. Rupanya Amara ingin mempunyai keluarga yang utuh. Difotonya pose ketiga boneka beruang itu.
        “Belum tidur, Rien?” tanya Papa yang masih asyik menonton televisi.
        Rien menggeleng dan duduk di samping Papa. Disandarkannya kepala Rien pada bahu
tua itu. Sungguh nyaman.
        "Sejak kapan Papa mengetahui masalah Rien?" tanya Rien penasaran.
        "Sejak kamu sering kesini tapi tidak bersama Rangga. Papa curiga!
        "Amara Rien adopsi dari teman yang hamil di luar nikah, Pa.
        "Semua bayi itu suci, Rien. Amara tetap anakmu dan cucu Papa meskipun ia
tidak keluar dari rahimmu!
***
        Rien memandang amplop putih yang sudah lusuh dan masih tertutup rapat
dari Rangga. Telah empat tahun ia menyimpannya. Betapa kagetnya Rien ternyata amplop itu
berisi kertas hasil laboratorium yang menunjukkan bahwa Rangga tidak subur. Dan
selembar lagi  surat berisi permintaan maaf Rangga karena tidak akan bisa
memberinya keturunan. 
        Ia pergi karena merasa bersalah pada Rien dan Papa. Ia tak bisa bicara langsung pada Rien tentang masalahnya. Ditulisnya juga nomor kontak khusus jika Rien ingin menghubunginya dan mau menerima kekurangannya yang tak bisa memberikan keturunan. Jadi ...
        Rien segera menelpon Rangga.
       “Rien?” Lama aku menunggumu.
       “I love you,” desis Rien.
       Malam bertaburan bintang menambah sukacita suasana. Beban yang selama
ini bersemayam di tubuh Rien telah menguap seiring bunyi detik jam. Seandainya dulu
Rien membuka amplop itu, pasti ia tidak akan merana selama empat tahun. Rien
menelan ludah mengingat semuanya.
***
       Pagi hari, Rien asyik membereskan buku-buku di rak ruang tengah. Sudah
lama ia tidak membersihkan rumah Papa. Ia ingin membuat rumah kenangannya itu
bersih dan lebih indah dengan warna baru. Keahliannya mendesain rumah memang
patut diacungi jempol. Semangatnya telah membara kembali.
       Ting tong! Ting tong!
       “Pasti pizza pesananku sudah datang,” pikir Rien.
        Rien bergegas ke ruang tamu sambil membawa sebuah buku yang tadi
menarik perhatiannya. Novel romantis kesukaannya ketika masih kuliah dulu. 
        Dibukanya pintu. Mulutnya ternganga. Buku yang dipegangnya jatuh.
        “Ra-Rangga?” Jantung Rien amat bergemuruh. Persis ketika dulu, pertama
kali ia bertemu Rangga.
        Di depan pintu seorang laki-laki sedikit gondrong memakai kaos abu-abu
berdiri. Matanya memancarkan kerinduan yang dalam. 
       "Masih seperti dulu," batin Rien.
       “Maafkan aku Rien. I miss you! Terima kasih kau bisa menerima kekuranganku,” suara bariton itu begitu nyata terdengar di telinga Rien. Suara yang selama empat tahun ini hanya bisa didengarnya dalam mimpi. 
       Rangga membentangkan tangan. Ia tak sanggup menahan rindu yang terpendam. Sudah empat tahun ia merindukan saat-saat seperti ini. Kerinduannya membuncah. Rien membalas pelukan itu, erat! Air mata bahagia menggenang di pelupuk mata kedua insan itu. Cinta Rangga
dan Rien masih utuh dan tak akan terkikis hanya karena masalah keturunan.
***